Header Ads

Terbentuk Kembali, Kodam Merdeka Siap Jaga Wilayah Perbatasan

JAKARTA, PORTALKOMANDO.ML  - Kodam XIII/Merdeka kembali dibentuk setelah sejak 1980-an melebur bersama Kodam XIV/Hasanuddin di Kodam VII/Wirabuana. Dengan kembali berfungsinya Kodam Merdeka, TNI AD siap menambah satuan pelaksana penjaga perbatasan NKRI dengan Filipina.

Menurut Pangdam Merdeka Mayjen Ganip Warsito, Kodam Merdeka dibentuk pertama kali pada 16 Juni 1957. Ganip, yang tengah mengikuti rapat pimpinan TNI di Mabes TNI, Cilangkap, menyebut penggabungan dengan Kodam Hasanuddin dilakukan karena kebijakan efektivitas TNI pada era 1980-an.

"Kodam Merdeka dibentuk seiring penumpasan pemberontakan Permesta di Sulut dulu. Makanya diberi nama (Kodam) Merdeka," ungkap Ganip saat berbincang dengan detikcom, Kamis (19/1/2017).


Ganip mengatakan Kodam Merdeka dioperasikan kembali sesuai dengan kebijakan Panglima TNI terkait dengan Minimum Essential Force (MEF). Selain itu, hal tersebut sejalan dengan instruksi Presiden Joko Widodo agar TNI melengkapi satuan di wilayah-wilayah yang saat ini masih kosong.

"Ini masuk renstra (rencana strategis) sebelumnya. Tapi realisasinya di Renstra 2015-2019 ini," kata dia.

Selain Kodam Merdeka, TNI AD baru saja meresmikan Kodam baru, yakni Kodam XVIII/Kasuari, yang meliputi wilayah Papua Barat. Markas Kodam Merdeka sendiri berada di Manado serta membawahi wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo.

Berbeda dengan Kodam Kasuari, yang benar-benar baru didirikan, Kodam Merdeka sudah jauh lebih lengkap untuk personel serta sarana dan prasarananya. Meski begitu, pengembangan satuan juga dilakukan.

"Kita relatif lengkap. Dalam proses pembentukan kembali Kodam ini, pertama ada pembentukan Makodam dan 16 Balakdam (Badan Pelaksana Kodam)," jelas Ganip.

"Kegiatan kedua adalah alih Kodal (komando dan pengendalian) dari satuan yang dulu dari Kodam Wirabuana. Tiga provinsi alih Kodal," sambungnya.

Alih Kodal itu meliputi Korem 131/Santiago Manado berikut 6 Kodim dan 85 Koramil. Lalu Korem 13/Tadulako Palu berikut 5 kodim dengan 59 koramil, termasuk satuan tempur dan satuan lain.

Ada dua kegiatan utama lagi yang dilakukan terkait dengan pembentukan Kodam Merdeka ini. Prosesnya dilakukan sejak 2017 hingga 2019. Yakni pembentukan satuan pelaksana di daerah Gorontalo, seperti Korem, yang diikuti Kodim-kodim dan Koramil-koramil.

"Termasuk juga pembentukan Kodim Talaud sana di perbatasan, karena sekarang masih ada 1 Kodim yang membawahi 3 kabupaten. Karena itu, di kepulauan perlu ada Kodim, maka saya kira perlu dibentuk," sebut Ganip.

"Itu juga karena penjabaran Panglima TNI sesuai dengan instruksi presiden. Maka kami mulai menata gelar pasukan. Untuk satuan tempur yang dialih Kodal ada 1 Brigade dengan 3 batalyon. Dua batalyon ikut Korem Manado," tambahnya.

Tambahan satuan-satuan pelaksana Kodam Merdeka meliputi satuan tempur, satuan teritorial, satuan bantuan tempur, dan satuan administrasi. Dengan dibentuknya satuan-satuan ini, personel dan sarana/prasarana juga akan dilengkapi.

"Kalau ada satuan akan mengikuti sarana-prasarananya. Kalau alatnya kurang, personel nggak ada yang kurang. Otomatis juga penambahan alutsista, seperti kendaraan tempur, senjata, pesawat udara, roket untuk satuan bantuan tempur," urai Ganip.

Penambahan satuan berikut alutsista dan kelengkapan lainnya tentu akan memperkuat pertahanan Indonesia di wilayah perbatasan. Ini juga akan menjadi realisasi pemerataan seperti yang diharapkan Presiden Jokowi agar pembangunan tidak hanya berfokus di wilayah Jawa.

"Untuk menjaga wilayah perbatasan. Jadi kita memiliki kemampuan. Tak hanya gelar pasukannya saja. Jadi postur kekuatannya, kemampuannya, dan gelar pasukannya."

Penambahan kekuatan di Gorontalo, selain sebagai penunjang kekuatan pertahanan, sekaligus sebagai upaya antisipasi dari aksi-aksi teror di perbatasan. Seperti diketahui, pasukan Abu Sayyaf beberapa kali menculik kapal-kapal nelayan Indonesia.

"Untuk Abu Sayyaf itu maka di Gorontalo kita buat Korem, Kodim. Brigade juga ada di Gorontalo. Kita sebagai Kodam baru harus melaksanakan sebagai kotama pembinaan dan kotama operasi," papar jenderal bintang dua itu.

"Kalau Kodam baru tantangan ada 2, meletakkan sistem atau prosedur kerja yang sesuai ketentuan, pembinaan satuan maupun tugas operasi," lanjut Ganip.

Dengan kembali beroperasinya Kodam Merdeka, TNI AD berharap bisa meningkatkan keamanan bagi masyarakat. Khususnya bagi warga Sulut, Sulteng, dan Gorontalo.

"Harus lebih bisa memenuhi harapan masyarakat. Sinergitas dengan masyarakat agar bisa lebih lagi. Karena kita TNI lahir dari rahim rakyat," harap Ganip.

Adapun satuan yang telah dialih Kodal dan masuk di jajaran Kodam Merdeka adalah:

1. Korem 131/Santiago di Manado
a. Kodim 1301/Satal
b. Kodim 1302/Minahasa
c. Kodim 1303/Bolaang Mongondow
d. Kodim 1304/Gorontalo
e. Kodim 1309/Manado
f. Kodim 1310/Bitung
g. Yonif Raider 712/Wiratama di Manado

2. Korem 132/Tadulako di Palu
a. Kodim 1305/Buol-Tolitoli
b. Kodim 1306/Donggala
c. Kodim 1307/Poso
d. Kodim 1308/Luwuk Banggai
e. Kodim 1311/Morowali
f. Yonif 714/Sintuwo Maroso di Poso

3. Brigif 22/Ota Manasa di Gorontalo
a. Batalyon Infanteri 711/Raksatama di Palu
b. Batalyon Infanteri 713/Satyatama di Gorontalo
c. Batalyon Infanteri 715/Motuliato di Gorontalo

4. Yon Armned 19/105 MM Tarik Bogani di Kab Bolmong
5. Kompi Kavaleri Serbu 10/Manguni Setya Cakti di Manado
6. Detasemen Zeni Tempur 4/Yudha Karya Nyata di Minahasa Utara
(elz/rvk) tni ad/detikcom

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.